You must have Flash Player installed in order to see this player.
Banner
PDF Cetak Surel
Lembaga Pembiayaan Otomotif
binocular_01“Tingginya permintaan akan kendaraan yang didukung Lembaga Pembiayaan, memberikan nilai positif bagi perkembangan industri otomotif secara nasional”

Lembaga Pembiayaan Otomotif, Realitas Pergulatan Ekonomi
Pertumbuhan penjualan otomotif di secara nasional sedang “booming”. Pucaknya terjadi pada tahun 2005 dimana penjualan mobil mencapai 533 ribu lebih. Hal ini berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Sementara kendaraan roda dua (sepeda motor) berdasarkan laporan Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI), mencapai 5,1 juta unit. Angka ini diperoleh dari anggota AISI (Honda, Yamaha, Kawasaki, Suzuki, Piaggio, Kymco dan Kanzen).
Pada tahun 2006, akibat dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 1 Oktober 2005 penjualan kendaraan bermotor menjadi lesu, diperparah dengan tingginya nilai suku bunga bank. Gaikindo mencatat penjualan mobil hanya sekitar 318.904 unit. Sedangkan AISI mencatat penjualan sebesar 4.427.342 unit lebih.
Memasuki tahun 2007, industri kendaraan bermotor mulai membaik. Hal ini dibuktikan dengan pencapaian penjualan sepeda motor bersadasarkan AISI sebanyak 4.688.263 Unit dan Mobil sebanyak sebanyak 434.473 Unit. Sedangkan padal tahun 2008 Penjualan kendaraan naik hingga 5,1 Juta Unit dan penjualan mobil mencapai 607.799 Unit.
Tingginya penjualan kendaraan bermotor ini, tak lepas dari peranan lembaga pembiayaan (leasing/finance). Karena, melalui lembaga pembiayaanlah, masyarakat mampu membeli dan memiliki kendaraan bermotor.  Gaikindo mencatat lebih dari 80 persen pembelian kendaraan bermotor dilakukan melalui lembaga pembiayaan.
Peranan lembaga pembiayaan (bank dan non bank), jelas makin mempercepat masyarakat untuk mendapatkan kendaraan bermotor. Tercatat, hampir seluruh lembaga keuangan menawarkan jasa kredit kendaraan bermotor (KKB) maupun kredit pemilikan mobil (KPM).
Besarnya permintaan pembelian kendaraan bermotor ini, menjadi lahan subur bagi lembaga pembiayaan dalam menyalurkan kreditnya. Besarnya permintaan masyarakat untuk membeli kendaraan bermotor, dipicu juga oleh beberapa kemudahaan kredit yang diberikan. Mulai dari uang muka ringan (bahkan ada yang tanpa yang muka), rendahnya suku bunga bank, lamanya waktu kredit, kecilnya angsuran serta kemudahan persyaratan pengajuan kredit.
Berdirinya Lembaga Pembiayaan yang mendanai kredit otomotif pada masyarakat, secara langsung berdampak pada perbangkan nasional. Peranan lembaga pembiayaan (bank dan non bank), semakin membantu mempercepat masyarakat untuk mendapatkan kendaraan bermotor. Tercatat, hampir seluruh lembaga keuangan menawarkan jasa kredit kendaraan bermotor (KKB) maupun kredit pemilikan mobil (KPM).
Industri perbankan, hampir semuanya meluncurkan produk KKB atau KPM. Bank Danamon misalnya meluncurkan PrimAuto, PermataBank meluncurkan KPM Permata, Bank Bukopin dengan Kredit Mobil Bukopin, Bank Bumiputera dengan KKB Top 142, BCA dengan KKB-nya, dan masih banyak lagi seperti Bank Niaga, Bank Mandiri dan Bank BNI.
Demikian pula dengan lembaga keuangan non-bank, seperti Astra Credit Company (ACC), Wahana Oto Multiartha (WOM) Finance, Astra Sedayu Finance, Adira Dinamika Multi Finance (Adira), Federal International Finance (FIF), Bussan Auto Finance (BAF), Toyota Astra (TA) Finance dan lainnya. Terdapat puluhan hingga ratusan lembaga pembiayaan yang menyalurkan kredit kepemilikan kendaraan bermotor ini.
Bahkan, perusahaan sekelas Astra International pun, mengembangkan sejumlah anak perusahaannya untuk membidik segmen masyarakat yang membutuhkan kredit kendaraan bermotor, seperti FIF (untuk sepeda motor), ACC, Astra Sedayu Finance, Toyoat Astra Finance (untuk mobil).
Aktifitas Lembaga Pembiayaan tersebut, sebagai jasa keuangan yang produktif sangat menarik perhatian perbangkan. Sebut saja Bank danamon yang “mengucurkan” dananya untuk PT. Adira Dinamika Multi Finance dan PT. Bussan Auto Finance. PT. BCA, yang berafiliasi dengan PT Central Sari Finance, dan masih banyak lainnya. Fenomena ini amat menarik, mengingat di saat masyarakat membutuhkan kredit perbangkan, bank justru mengucurkan kredit “korporat” kepada finance untuk dijual lagi kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan otomotif.
Tingginya permintaan akan kendaraan yang didukung Lembaga Pembiayaan, memberikan nilai positif bagi perkembangan industri otomotif secara nasional, khususnya sejumlah anak perusahaan Astra (mobil) yang bergerak dalam industri otomotif (seperti, Toyota, Daihatsu, Isuzu, Peogeut, Nissan Diesel dan BMW, red). Industri sepeda motor (Honda, Yamaha, Kawasaki, Suzuki, Piaggio, Kymco dan Kanzen) justru lebih pesat, ditandai dengan pembukaan industri baik produksi, perakitan suku cadang maupun penjualannya. Hal ini dapat dilihat dari “menjamurnya” deler penjualan kendaraan  yang didukung dengan pembukaan cabang Lembaga Pembiayaan hingga pelosok di Indonesia.
Sisi positif perkembangan dunia otomotif tersebut, berdampak negatif bagi dunia usaha transportasi. Meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi terutama sepeda motor, menjadikan pengguna jasa angkutan menurun drastis, terutama angkutan dalam kota. Sedangkan untuk angkutan luar kota atau antar kota tidak terlalu berpengaruh.  
Konsumen lebih memilih menggunakan sepeda motor pribadi dengan alasan menghemat biaya. Biaya transportasi yang selama ini dikeluarkan ditabung guna membayar kredit angsuran kendaraan. Selain “tidak hilang” maka angsuran tersebut dianggap sebagai “tabungan” yang apabila lunas kendaraan tersebut bisa dijual. Dengan presepsi ini maka semakin besar daya minat masyarakat untuk membeli kendaraan melalui Lembaga Pembiayaan, yang secara langsung akan menggelembungkan pundi-pundi keuntungan Lembaga Pembiayaan. (Ad-Ji).